Home Kabar Daerah Puluhan Tahun Menanti, Warga Buanajaya Kembali Tambal Jalan Rusak dengan Dana dan Tenaga Sendiri

Puluhan Tahun Menanti, Warga Buanajaya Kembali Tambal Jalan Rusak dengan Dana dan Tenaga Sendiri

50
0
SHARE
Puluhan Tahun Menanti, Warga Buanajaya Kembali Tambal Jalan Rusak dengan Dana dan Tenaga Sendiri

Targetperistiwa.my.id // Sukabumi – Kesabaran masyarakat Desa Buanajaya, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kembali diuji. Setelah bertahun-tahun menunggu perhatian pemerintah, warga terpaksa turun tangan memperbaiki sendiri ruas jalan kabupaten yang kondisinya kian memprihatinkan.

Ruas jalan penghubung Kampung Cicareuh, Desa Buanajaya, dengan Desa Bumisari, Kecamatan Cikidang, yang menjadi jalur vital aktivitas warga sehari-hari, kini dipenuhi lubang besar, genangan air, serta sejumlah titik rawan longsor. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.

Sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya darurat, warga bersama Pemerintah Desa Buanajaya melakukan aksi gotong royong menambal jalan menggunakan batu dan material seadanya. Di tengah cuaca panas, mereka bahu-membahu menutup lubang-lubang yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat.

Aksi swadaya tersebut dilakukan agar kendaraan roda dua maupun roda empat masih dapat melintas meski dalam kondisi terbatas.

Camat Bantargadung, Syarifuddin Rahmat, mengatakan kerusakan jalan tersebut bukanlah persoalan baru. Menurutnya, kondisi memprihatinkan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa adanya perbaikan menyeluruh yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

"Ruas jalan milik Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang berada di wilayah Kampung Cicareuh, Desa Buanajaya hingga perbatasan Desa Bumisari, Kecamatan Cikidang, sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer sangat diharapkan masyarakat dapat dibangun melalui pengaspalan hotmix atau betonisasi. Informasinya saat ini akan ada penanganan sekitar 350 meter oleh DPU Kabupaten Sukabumi," ujarnya, Minggu (7/6/2026).

Meski menyambut baik rencana tersebut, Syarifuddin menilai penanganan sepanjang 350 meter belum cukup untuk mengatasi persoalan yang terjadi di lapangan. Pasalnya, kerusakan tersebar hampir di seluruh ruas jalan yang menghubungkan dua kecamatan tersebut.

Saat musim penghujan tiba, kondisi jalan semakin memburuk. Longsor kerap terjadi dan menutup akses masyarakat. Dalam situasi seperti itu, warga dan pemerintah desa menjadi pihak pertama yang turun melakukan penanganan darurat.

"Setiap terjadi longsor, pemerintah desa bersama masyarakat bergerak lebih dulu membersihkan material yang menutup badan jalan agar akses transportasi tetap terbuka," katanya.

Harapan masyarakat pun sederhana, yakni adanya pembangunan permanen yang mampu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna jalan. Mereka berharap pemerintah daerah tidak lagi hanya melakukan perbaikan sementara yang cepat rusak dan harus berulang kali diperbaiki.

Keluhan serupa juga dirasakan langsung oleh Camat Bantargadung. Ia mengaku harus menghadapi medan berat saat melakukan perjalanan menuju Kantor Desa Buanajaya, terutama ketika musim hujan.

"Dari ruas jalan yang masih cukup baik di kawasan Cipanengah dan Salabuana menuju Kantor Desa Buanajaya sekitar 1,2 kilometer, kondisinya sering kali mengharuskan saya menggunakan kendaraan layaknya off road atau trabas, baik mobil maupun sepeda motor," ungkapnya.

Tak hanya di wilayah Cicareuh, kerusakan parah juga terlihat di sejumlah titik lain, termasuk jalur perbatasan Mangunjaya–Buanajaya. Lubang menganga, badan jalan yang tergerus air, hingga permukaan jalan yang tidak rata menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi warga.

Ironisnya, kondisi tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang tanpa adanya pembangunan permanen yang memadai. Akibatnya, masyarakat terus bergantung pada perbaikan swadaya demi menjaga akses transportasi tetap berfungsi.

Kini, warga berharap aksi gotong royong yang mereka lakukan tidak hanya menjadi simbol kepedulian masyarakat, tetapi juga menjadi peringatan bagi pihak terkait bahwa kebutuhan akan infrastruktur jalan yang layak sudah tidak bisa lagi ditunda.

"Jalan ini merupakan urat nadi perekonomian dan aktivitas masyarakat. Sudah waktunya ada langkah konkret dan pembangunan menyeluruh agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada tambal sulam," pungkas Syarifuddin.

Reporter:Rzl