Home Umum Kepemimpinan yang Berintegritas: Oki Prasetiawan Tekankan Pentingnya Pemimpin Sebagai Contoh Nyata

Kepemimpinan yang Berintegritas: Oki Prasetiawan Tekankan Pentingnya Pemimpin Sebagai Contoh Nyata

134
0
SHARE
Kepemimpinan yang Berintegritas: Oki Prasetiawan Tekankan Pentingnya Pemimpin Sebagai Contoh Nyata

 "Tanpa Contoh yang Jelas dan Sanksi yang Tegas, Praktik Pungutan Liar Akan Sulit Dihapuskan"

JAKARTA, 28 Maret 2026 – Kepemimpinan yang benar-benar efektif tidak dapat hanya dibangun melalui kebijakan atau pidato semata, melainkan harus diwujudkan melalui perilaku dan tindakan konkrit yang menjadi contoh bagi seluruh pihak. Hal ini disampaikan oleh Oki Prasetiawan, SM.,SH.,MH.,CLMA., dalam pembahasan terkait standar kepemimpinan yang diperlukan untuk membangun institusi yang kuat dan berintegritas.

Menurut Oki, sebuah kepemimpinan akan mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan jika pemimpinnya mampu menjadi teladan bagi yang dipimpin. "Banyak pemimpin yang giat menyusun peraturan dan memberikan instruksi kepada bawahannya, namun seringkali tidak menunjukkan komitmen yang sama dalam menjalankan hal tersebut sendiri. Hal ini justru akan menciptakan kesenjangan yang merusak fondasi kerja sama," ujarnya.

Ia menunjuk pada persoalan pungutan liar sebagai salah satu isu yang paling mencerminkan pentingnya contoh dari pemimpin. "Ketika seorang pemimpin menyatakan penolakan terhadap pungli namun tidak melakukan tindakan nyata ketika menemukan praktik tersebut, atau bahkan terlibat di dalamnya, maka deklarasi tersebut akan menjadi tidak berarti. Bahkan, hal ini bisa menjadi pemicu bagi praktik tersebut untuk semakin menjalar dan menjadi bagian dari budaya yang sulit diubah," jelasnya.

Oki menegaskan bahwa pungutan liar bukan hanya masalah keuangan yang merugikan masyarakat, melainkan sebuah pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan profesionalisme yang harus menjadi dasar setiap layanan publik. "Kelompok masyarakat yang paling lemah dan membutuhkan bantuan justru menjadi korban utama praktik ini. Mereka yang sudah memiliki keterbatasan ekonomi harus menanggung beban tambahan yang tidak semestinya," katanya.

Menurutnya, peran pemimpin sebagai agen perubahan sangat krusial dalam memberantas praktik ini. Jika pemimpin secara konsisten menunjukkan komitmen dengan menjauhi segala bentuk pungutan liar dan memastikan setiap kasus yang dilaporkan ditindaklanjuti dengan tegas, maka secara bertahap akan terbentuk budaya yang menghargai transparansi dan akuntabilitas. "Pemimpin harus menunjukkan bahwa tidak ada pengecualian dalam menerapkan aturan, tanpa memandang jabatan atau hubungan pribadi," tambahnya.

"Leading by Example" Sebagai Prinsip Dasar, Sanksi Sebagai Penguat

Oki menjelaskan bahwa prinsip "Leading by Example" atau memimpin dengan contoh bukan sekadar slogan, melainkan landasan fundamental yang harus menjadi pedoman setiap tindakan pemimpin. Ketika perilaku pemimpin selaras dengan apa yang diajarkannya, maka kepercayaan dan motivasi di antara anggota tim akan tumbuh secara alami.

"Jika kita mengharapkan seluruh tim menjaga disiplin dan profesionalisme, maka sebagai pemimpin kita harus menjadi yang pertama menunjukkan dedikasi tersebut. Ketika kita menetapkan aturan untuk menghapus praktik pungutan liar dan meningkatkan transparansi, maka kita sendiri harus menjadi sosok yang terbuka, jujur, dan selalu menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang berlaku," jelasnya.

Menurutnya, ketika terjadi kesenjangan antara ucapan dan tindakan pemimpin, hal tersebut akan mengakibatkan hilangnya kredibilitas, menurunkan semangat kerja, dan berpotensi menciptakan suasana di mana aturan dianggap fleksibel tergantung pada siapa yang menjalankannya. Ia menambahkan bahwa praktik pungutan liar yang dibiarkan berkembang tidak hanya merusak hubungan antara institusi dan masyarakat, tetapi juga menghambat kemajuan dan perkembangan secara keseluruhan.

Oki menguraikan bahwa sanksi terhadap pelaku pungli harus ditegakkan secara konsisten untuk memberikan efek jera. Tindakan pungli dapat dikenai sanksi pidana yang cukup berat, termasuk penjara dan denda, baik bagi pelaku yang meminta maupun yang memberikan sesuatu terkait pungli.

"Pemimpin harus memastikan bahwa setiap kasus pungli, baik yang terjadi di sektor publik maupun swasta, mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai hukum. Tidak ada ruang untuk kompromi dalam hal ini," katanya.

Ia menambahkan bahwa untuk sektor tertentu seperti pendidikan dan layanan publik, terdapat peraturan khusus yang mengatur larangan pungutan tidak resmi. Pelanggar dapat dikenai sanksi administratif seperti pengembalian dana dan evaluasi jabatan, hingga pidana jika terbukti melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Dampak Positif dari Contoh Pemimpin dan Penegakan Sanksi yang Konsisten

Oki mengemukakan bahwa kepemimpinan yang konsisten dalam menunjukkan contoh memiliki dampak yang luas dan berkelanjutan. Pertama, hal ini akan membentuk budaya kerja yang berdasarkan pada rasa saling menghormati, kesetaraan, dan tanggung jawab bersama di mana setiap individu merasa memiliki peran penting dalam mencapai tujuan bersama.

Kedua, pemimpin yang menjadi teladan akan memberikan inspirasi bagi bawahannya untuk terus meningkatkan diri dan memberikan kontribusi terbaik. "Ketika anggota tim melihat pemimpinnya bekerja dengan penuh tanggung jawab, selalu mematuhi peraturan, dan tegas dalam menolak segala bentuk pungutan liar – bahkan ketika dihadapkan pada godaan yang besar – mereka akan secara alami terdorong untuk mengikuti langkah yang sama," ucapnya.

Ketiga, hal ini juga akan memperkuat sistem tata kelola dan penerapan kebijakan, karena setiap langkah yang diambil oleh pemimpin akan menjadi acuan yang jelas bagi seluruh elemen organisasi. Oki menyatakan bahwa dengan adanya pemimpin yang tegas dalam menentang pungli dan menerapkan sanksi secara adil, masyarakat akan semakin percaya dan aktif berperan dalam memantau serta melaporkan setiap kasus yang terjadi.

"Ketika sanksi diberikan secara adil dan transparan, maka akan menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak bahwa praktik pungli tidak akan diterima. Hal ini akan membantu membangun kesadaran bersama bahwa setiap bentuk penyelewengan harus mendapat konsekuensi yang sesuai," tambahnya.

Menghadapi Tantangan dalam Menerapkan Contoh dan Menegakkan Sanksi

Mengenai tantangan yang mungkin dihadapi, Oki mengakui bahwa menjadi pemimpin yang menunjukkan contoh bukanlah perjalanan yang mudah. Di tengah berbagai tuntutan dan tekanan yang ada, pemimpin seringkali dihadapkan pada situasi yang membuat mereka tergoda untuk mengambil jalan yang lebih mudah atau mengabaikan aturan yang telah ditetapkan.

"Namun, inilah saat yang menentukan sejauh mana integritas seorang pemimpin. Ketika dihadapkan pada tantangan – termasuk godaan untuk menerima atau memberikan pungutan liar demi kepentingan tertentu, atau tekanan untuk mengabaikan kasus pungli – seorang pemimpin harus tetap teguh pada prinsip yang telah dianut dan mencari solusi yang sesuai dengan hukum dan etika, bukan mencari alasan untuk menyimpang," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemimpin untuk terus melakukan evaluasi diri dan terbuka terhadap masukan serta umpan balik dari bawahannya. Selain itu, pemimpin perlu memastikan bahwa sistem pelaporan dan pengawasan berjalan dengan baik, sehingga setiap kasus pungutan liar dapat ditangani dengan cepat dan objektif tanpa rasa takut akan konsekuensi yang tidak adil. Hal ini akan membantu pemimpin untuk tetap konsisten dan terus meningkatkan kualitas kepemimpinannya.

Pesan untuk Membangun Kepemimpinan yang Berkelanjutan dengan Contoh dan Sanksi

Sebagai penutup, Oki menyampaikan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan atau kedudukan, melainkan tentang tanggung jawab untuk membimbing dan membawa seluruh pihak menuju kemajuan bersama.

"Jadilah pemimpin yang menjadi contoh bagi lingkungan di sekitar Anda. Ingatlah bahwa setiap aturan dan arahan yang Anda berikan – termasuk upaya untuk menghapus praktik pungutan liar dan korupsi – harus diterapkan secara konsisten, tidak hanya bagi bawahannya tetapi juga bagi diri Anda sendiri. Sanksi yang jelas dan penegakan hukum yang tegas harus menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya ini," katanya.

Oki menegaskan bahwa hanya dengan membangun kepemimpinan yang berintegritas, kuat, dan konsisten dalam menindaklanjuti setiap kasus pungli dengan sanksi yang sesuai, kita dapat menciptakan lingkungan yang adil, transparan, dan mampu membawa kemajuan bagi organisasi dan masyarakat secara luas. "Contoh dari pemimpin dan sanksi yang tegas adalah kombinasi yang tak tergantikan dalam memberantas pungutan liar," pungkasnya.

(red)