Targetperistiwa.my.id // 22 Maret 2026 – Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, Iran mengambil langkah strategis dengan membuka koridor pelayaran khusus di Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari sejumlah negara tertentu. Kebijakan ini diberlakukan sebagai upaya menjaga stabilitas dan keamanan jalur distribusi energi global yang vital.
Negara-negara yang memperoleh akses melalui jalur istimewa tersebut meliputi China, India, Pakistan, Malaysia, dan Irak. Iran menegaskan bahwa pemberian izin ini bertujuan untuk memastikan kelancaran navigasi sekaligus memberikan perlindungan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan sensitif tersebut.
Berdasarkan laporan Lloyd’s List, setidaknya sembilan kapal telah melintasi Selat Hormuz melalui koridor yang berada di sekitar Pulau Larak—wilayah yang memungkinkan otoritas Iran melakukan pemantauan ketat terhadap aktivitas pelayaran. Kapal-kapal dari India dan Pakistan tercatat menjadi bagian dari peningkatan lalu lintas di jalur tersebut.
Pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, menyebutkan bahwa pola pergerakan kapal yang mendapatkan izin khusus ini terlihat jelas dan terorganisir. Sementara itu, lembaga intelijen maritim Windward juga mengonfirmasi adanya kapal yang memilih jalur dekat garis pantai Iran, bukan melalui rute internasional yang biasa digunakan.
Komunikasi antara perusahaan pelayaran dan pihak Iran dilakukan secara tidak langsung, termasuk melalui perantara diaspora Iran. Analisis dari Financial Times menunjukkan bahwa akses ke koridor ini bersifat terbatas dan hanya diberikan kepada pihak-pihak tertentu yang memiliki hubungan atau kepentingan tertentu dengan Iran.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz—salah satu jalur maritim paling penting di dunia. Kapal-kapal yang mendapatkan izin terdiri dari berbagai jenis, mulai dari tanker minyak hingga kapal pengangkut barang curah, termasuk armada milik Iran sendiri. Sebagian besar kapal tersebut diketahui memiliki riwayat aktivitas di pelabuhan Iran, yang menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pemberian izin.
Di sisi lain, data pelayaran mengindikasikan adanya kapal yang melintasi jalur serupa tanpa mengaktifkan sistem pelacakan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait transparansi dan keamanan di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara-negara yang tidak bersikap agresif terhadap Iran. Ia menekankan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi pihak-pihak yang dinilai melakukan tindakan permusuhan terhadap negaranya.(Red)










LEAVE A REPLY