Targetperistiwa,my,id // Sekarwangi, 18 April 2026 — Keluhan terkait dugaan tingginya biaya layanan ambulans mencuat di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Seorang warga mengungkapkan keprihatinannya setelah mengetahui adanya pungutan yang dinilai memberatkan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu.
Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Kamis malam (16/4/2026), ketika seorang warga bernama Tole tengah berupaya mengurus pemulangan jenazah istrinya. Dalam kondisi berduka, Tole yang bekerja sebagai buruh angkut batu dengan penghasilan tidak menentu, harus mencari dana untuk membayar biaya ambulans.
Menurut keterangan sumber, Tole sempat mendatangi rumahnya untuk meminjam uang sebesar Rp300 ribu. Bantuan tersebut langsung diberikan, namun ternyata belum mencukupi kebutuhan biaya yang diminta.
“Awalnya dia meminjam Rp300 ribu untuk ambulans. Tapi kemudian diketahui biaya yang diminta mencapai Rp500 ribu,” ujar sumber, Sabtu (18/4/2026).
Meski telah berupaya menambah jumlah uang, nominal tersebut disebut belum juga diterima sebelum mencapai angka yang diminta. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan, mengingat keterbatasan ekonomi yang dihadapi Tole.
Situasi tersebut dinilai semakin berat karena Tole harus mencari pinjaman di tengah kondisi duka. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, ia disebut masih mengalami kesulitan.
Selain persoalan biaya, warga juga menyoroti minimnya peran pemerintah desa dalam merespons kejadian tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa laporan terkait hal ini sempat disampaikan kepada pihak desa, namun tidak ditindaklanjuti secara maksimal.
“Seharusnya ada perhatian dari pemerintah desa, apalagi ini menyangkut fasilitas umum seperti ambulans,” ungkapnya.
Warga menilai perlu adanya kejelasan aturan terkait penggunaan ambulans desa, termasuk skema pembiayaan yang transparan dan berpihak pada masyarakat kurang mampu, terutama dalam situasi darurat.
Tak hanya itu, perhatian terhadap kondisi kesehatan almarhumah sebelum meninggal juga turut menjadi sorotan. Disebutkan bahwa yang bersangkutan telah lama sakit, namun tidak mendapatkan pendampingan yang memadai hingga akhirnya meninggal dunia di Bogor.
Ironisnya, Tole diketahui merupakan bagian dari aparatur desa sebagai anggota pertahanan sipil yang masih aktif. Hal ini menambah harapan warga agar ada empati dan perhatian lebih dari pemerintah desa terhadap warganya.
Masyarakat berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah desa, baik dalam pengelolaan layanan ambulans maupun dalam meningkatkan kepedulian sosial.
“Kami berharap ke depan ada perbaikan nyata. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” pungkasnya.
Red









LEAVE A REPLY