Home Kabar Daerah Bantah Isu Pemotongan BLT, Ketua RW di Desa Ubrug Tegaskan Bantuan Disalurkan Utuh Ke Ahli Waris

Bantah Isu Pemotongan BLT, Ketua RW di Desa Ubrug Tegaskan Bantuan Disalurkan Utuh Ke Ahli Waris

36
0
SHARE
Bantah Isu Pemotongan BLT, Ketua RW di Desa Ubrug Tegaskan Bantuan Disalurkan Utuh Ke Ahli Waris

Sukabumi— Isu dugaan pemotongan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesra senilai Rp900 ribu serta tudingan intimidasi oleh oknum Ketua RW di Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, dibantah oleh Ketua RW 19 Ata Suhendra. Ia menegaskan bahwa kabar yang beredar tersebut merupakan kesalahpahaman.

Ata Suhendra menjelaskan, awalnya terdapat enam surat panggilan penerima BLT yang belum tersalurkan karena penerimanya telah meninggal dunia. Hal itu kemudian ia laporkan kepada Kepala Desa Ubrug untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

“Awalnya saya dipanggil Pak Kades, ditanya apakah masih ada surat panggilan yang belum disalurkan. Saya sampaikan ada enam, tapi orangnya sudah meninggal dunia,” ujar Ata usai di temui di kediamannya, Rabu (25/3/2026).

Menindaklanjuti hal tersebut, Kepala Desa bersama perangkat desa kemudian meminta agar ahli waris dari para penerima bantuan tersebut dihubungi. 

Ata pun mengaku berinisiatif menghubungi keluarga para penerima yang berada di berbagai daerah seperti Sukabumi, Bojong Cikembar, Tangerang, hingga wilayah Cikuya dan Sorog.

“Setelah dihubungi, kami diminta melengkapi data seperti KTP dan KK ahli waris. Semua prosesnya dibantu oleh pihak desa, termasuk Kadus dan perangkat lainnya. Setelah lengkap, para ahli waris atau perwakilannya dibawa ke kantor pos untuk pencairan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh bantuan tersebut akhirnya berhasil dicairkan dan diterima oleh para ahli waris maupun penerima langsung yang berhak.

“Tidak ada pemotongan sama sekali. Yang mengambil langsung perwakilan keluarga penerima. Saya hanya membantu mengantar ke kantor pos,” tegas Ata.

Bahkan menurutnya, ia sempat menggunakan kendaraan pribadi untuk mengantar enam orang perwakilan penerima hingga malam hari.

“Saya sampai mengantar mereka jam 9 malam pakai mobil pribadi. Justru saya yang keluar bensin. Saya tidak pernah meminta uang apa pun,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, bahwa uang sebesar Rp100 ribu yang sempat diterimanya merupakan titipan dari warga untuk perangkat desa sebagai bentuk terima kasih, bukan pemotongan bantuan. Dari jumlah tersebut, sebagian bahkan ia berikan kembali kepada warga kurang mampu.

“Dari Rp100 ribu itu, Rp50 ribu saya berikan lagi kepada warga yang membutuhkan,” tambahnya.

Sementara itu, Petugas Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Desa Ubrug, Restu, mengatakan bahwa persoalan tersebut pada dasarnya telah selesai. Ia menyebut sebagian penerima bahkan sudah menerima bantuan sebelumnya.

“Yang atas nama Pak Ojan sebenarnya sudah menerima bantuan tersebut. Permasalahan ini sudah dirapatkan bersama perangkat desa dan sebenarnya sudah selesai,” kata Restu.

Menurutnya, jika masih ada pihak yang merasa belum menerima bantuan, pihak desa siap memfasilitasi klarifikasi dengan menghadirkan para penerima agar persoalan menjadi terang.

“Kalau memang perlu klarifikasi, nanti akan dihadirkan warga yang menerima bantuan itu agar semuanya jelas. Supaya ada pembanding dan tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.

Restu menambahkan, pemerintah desa juga akan memanggil pihak RW serta warga terkait untuk musyawarah kembali secara kekeluargaan agar persoalan tersebut benar-benar tuntas.

“Intinya kita ingin semua jelas dan tidak ada pihak yang dirugikan, apalagi ini menyangkut warga yang sebagian sudah lanjut usia,” pungkasnya.(Red)